[REVIEW] Max Havelaar - Tumaritis

Max Havelaar Tumaritis [demajors]

Pertama kali yang menarik perhatian dari debut album ini jelas adalah kemasannya yang luar biasa. Mungkin ini buah ide Dedidude, vokalis sekaligus gitaris Max Havelaar, yang lama berkecimpung di industri grafis musik. Ia mengajak 9 seniman untuk menggarap 9 artwork di album ini. Top notch!

Bagaimana dengan musik mereka? Hmm, kalau melihat salah satu gambar yang ada di dalamnya, ada gambar gitar, bas, ampli, synthesizer, barisan efek dan lain sebagainya, mungkin kata-kata yang tepat buat nyimpulin musik mereka adalah penuh atau padat. Rasanya seperti makan sushi, isiannya pas, sesuai dengan porsinya. Nikmat bukan?

Max Havelaar punya musik rock yang cenderung progresif yang mungkin sebagian awam seperti kami agak sulit mencerna, namun ternyata pas didenger gak sesulit yang dikira kok. Memang gak bisa cuma didengerin satu dua kali sampai kamu bisa bener-bener klop sama keseluruhan albumnya.

Beli CD fisik, dengerin di perangkat soundsystem yang mumpuni memang sedap buat nikmatin jenis musik rock kaya mereka. Setel musik keras-keras sambil dengerin kopi pun gak jadi soal.

Meski demikian, didengerin secara digital juga gak ada masalah, malahan ada beberapa lagu yang tanpa sengaja cocok juga didengerin di tengah aktivitas. Contohnya seperti lagu “Manusia Pemberani” dan “Batas Langit Yang Kita Punya” atau “Mimpi” yang mungkin bisa jadi teman santai kamu duduk di commuterline, melintasi jalan yang hujan menuju rumah. “Rumah” mungkin bisa jadi soundtrack lari yang asik, kaya di film Walter Mitty (ini mungkin gara-gara gebukan drumnya).¬†Sementara lagu-lagu kaya “Tetap berdiri tegak” menjadi nomor live yang enak, karena hentakan beat yang groovy-nya bisa bikin kepala bergoyang. Selayaknya dirikues!

Bagaimana dengan lirik? Satu hal yang perlu dicatat, Dedidude melagukan lirik di tiap lagu dengan lafal yang baik, tak terbenam dengan musiknya, malahan cerdik dalam membuat nuansa di tiap lagunya sehingga bisa dinikmati, seperti dalam “Tersisih Tak Risih”, yang meski lagu terakhir tapi ini bagi saya adalah penutup yang indah.