Record Store Day, Gak Cuma Harinya Toko Musik

Hari toko musik.

Sudah sejak beberapa tahun ini, terutama di tiap Minggu ketiga April, para fans musik selalu menunggu-nunggu sebuah event yang bernama Record Store Day pada weekend minggu ketiga April nanti.

Di event ini lah, berkumpul semua musisi, band, fans, juga toko dan kios musik untuk merayakan transaksi jual beli rilisan fisik yang biasa dilakukan di toko musik, dari CD, kaset, vinyl, sampai DVD dan lainnya.

Ironis memang, di Jakarta sendiri, keberadaan toko musik sendiri malah bikin sedih. Satu persatu toko musik di Indonesia tutup. Yang terakhir adalah Aquarius Mahakam (sekarang jadi Loop). Tempat yang dulu jadi tongkrongan anak-anak muda era 80-akhir 90-an, dari mulai beli kaset sampai beli tiket konser.

[caption id=“attachment_192272” align=“aligncenter” width=“560”]aquariusclosing {source name=“Aquarius Mahakam” url=“https://dailysocial.id/post/manic-monday-terima-kasih-aquarius-mahakam"}[/caption]

Hal ini gak jauh berbeda sama kondisi yang terjadi di barat. Beberapa toko musik pun tutup. Cerita tentang tutupnya Tower Records, salah satu toko musik terbesar di California, menyisakan kesedihan.

Meski demikian, masih ada beberapa toko musik independen yang tetap bertahan dan masih diminati oleh para fans yang masih mencari rilisan fisik.

[caption id=“” align=“aligncenter” width=“630”] {source name=“She and Him” url=“http://pastorjustindouglas.com/2012/12/05/a-very-she-him-christmas/"} vinyl-nya She and Him, lucu banget pink[/caption]

Eksistensi mereka dipicu dari musisi-musisi independen di luar negri yang ‘bernostalgia’ merilis rekaman mereka dalam format piringan hitam/vinyl juga format fisik lain. Band-band indie seperti Belle and Sebastian, Fleet Foxes, She and Him, sampai musisi seperti Jack White ini lah yang jadi sebab akhirnya para fans berat mereka kembali mengonsumsi apapun bentuk fisik dari rekaman mereka.

Gak bedanya di luar, Di Indonesia kita punya Jalan Surabaya, jalan yang dipadati kios-kios musik yang masih tetap bertahan dengan menjual vinyl atau piringan hitam, CD dan kasetnya.

Dari hanya sekadar tempat wisata untuk turis membeli oleh-oleh barang antik, Jalan surabaya sekarang juga mulai dipenuhi oleh anak-anak muda yang sering nongkrong mencari piringan hitam atau CD dan kaset lama.

Kemudian, mulai populernya lagi tren anak-anak muda membeli dan mengoleksi vinyl berdampak pada berjamurnya lagi lagi satu persatu toko musik baru, seperti Monka Magic, Kemang, kios-kios yang ada di Blok M Square dan yang terakhir di Pasar Santa.

[caption id=“” align=“aligncenter” width=“630”] {source name=“Pasar Santa” url=“dok. MBDC”} salah satu kios musik cantik di pasar santa[/caption]

Ini belum ditambah dengan beberapa musisi Indonesia yang mulai berani mengikuti musisi independen di luar negri untuk merilis rekamannya lewat format piringan hitam dari mulai Superman Is Dead, White Shoes And The Couples Company, Naif, The Upstairs, dan masih banyak lagi.

Oiya perlu dicatat, format piringan hitam ternyata juga sempat booming di anak muda tahun 60-70-an. Kala itu, anak-anak muda (yang mungkin udah jadi opa oma atau om kita) sempet ngerasain pergi ke toko musik untuk beli piringan hitam The Beatles, Koes Plus, Dara Puspita, dan lain sebagainya. Tradisi ini putus di tengah jalan ketika kaset dan CD mulai populer, sampai akhirnya kaset dan CD mulai ditinggalkan digantikan RBT, yang juga kemudian diganti oleh kehadiran musik digital.

Rilisan fisik musik pada dasarnya tak pernah mati.

Meski di tengah gempitanya musik digital, selalu aja ada musisi dan orang-orang yang membeli rekaman musik dari band yang jadi fans mereka. Meski gak sebanyak era 90-an, namun tak dipungkiri, CD Tulus Album Gajah yang berhasil terjual 5000 kopi pada minggu pertama menunjukkan bahwa respon fans akan produk fisik masih ada.

Nah, dari semua cerita ini lah mengapa Record Store Day, sebuah event internasional yang memang bertujuan untuk merayakan eksistensi toko musik ini menjadi masuk akal untuk digelar. Dicetuskan di Amerika tahun 2007 oleh sekumpulan orang, Eric Levin, Michael Kurtz, Carrie Colliton, Amy Dorfman, Don Van Cleave dan Brian Poehner, event ini biasanya digelar di satu toko musik dan didalamnya pameran, penampilan musisi juga meet and greet dan lainnya.

Tahun 2008 dicatat adalah perhelatan Record Store Day pertama. Digelar di Rasputin Music di Mountain View. Saat itu secara gak sengaja Metallica didapuk sebagai duta dari perhelatan ini. Di event itu, Metallica menggelar sesi tandatangan CD, vinyl, kaset sampai apapun yang berkaitan dengan mereka, dari merchandise, gitar, apapun.

[caption id=“” align=“aligncenter” width=“630”] {source name=“RSD 2016” url=“http://www.recordstoreday.com/"} Tahun ini mereka jadi dutanya[/caption]

Di Indonesia, Record Store Day pertama digelar di Monka Magic, toko musik di kawasan Kemang di tanggal 22 April 2012. Khusus di acara itu digelar diskusi yang membahas tentang vinyl yang mengundang kolektor, musisi, label independen serta pengamat musik. Semua membicaran tentang kembalinya lagi rekaman vinyl.

Di acara itu juga turut digelar penjualan spesial reissue album pertama dari Bangkutaman dalam edisi terbatas serta penampilan beberapa band, dari Zeke Khaseli, Polkawars, dan lain sebagainya.

Tahun demi tahun, Record Store Day di Jakarta berkembang, dari lebih dari sekadar perayaan toko musik yang di dalam toko musik, menjadi sebuah bazaar besar yang ngumpulin semua toko-toko musik, baik kios musik fisik maupun online untuk menjual rilisan mereka. Meriah!

[caption id=“” align=“aligncenter” width=“630”] {source name=“RSD 2015” url=“dok.RSDI”} RSD Indonesia tahun kemarin[/caption]

Record Store Day udah jadi tanggal asik bagi musisi independen untuk mempromosikan rekaman-rekaman spesial mereka, di luar album studio mereka. Karena ya, gak dipungkiri bahwa yang ada di event tersebut adalah mereka yang emang dateng untuk musik, bukan sekadar iseng gak ada kerjaan mau kemana pas weekend aja. Ini sudah terlihat dari ajang Record Store Day tahun lalu. Berlokasi di di Bara Futsal, Blok M dimana ratusan fans musik rela mengantri untuk membeli rilisan fisik dari band-band independen yang mereka suka.

Jadi, pada akhirnya Record Store Day udah bukan lagi sekadar ‘hari toko musik’ semata, bukan juga mendukung pelestarian toko musik, namun lebih kepada hari dimana semua orang merayakan eksistensi rilisan musik, dari vinyl, CD sampai kaset, karena dengan menghargai dan trus membeli rilisan fisik di toko musik, sudah pasti kamu secara gak langsung udah menjaga eksistensi toko musik ini sendiri.