Mari Berandai-andai! 6 Karya Sastra Yang Layak Dijadiin Film

Film Indonesia makin keren aja. Sekarang kalo kamu perhatiin, di berbagai bioskop seminggu bisa ada empat sampai lima film diputer. Bahkan, satu bioskop bisa cuma memutar film Indonesia satu harinya. Salah satu yang MBDC suka adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Film yang diangkat dari sastra dan dibintangi kesayangannya MBDC, Pevita Pearce.

Pas nonton kisah cinta Cik Hayati dan Engku Zainuddin, MBDC mikir lagi karya-karya sastra yang kayaknya cocok banget dijadiin film. Daripada pembuat film Indonesia susah nemuin cerita dan hasilnya bikin film jelek, mending menggali kesusastraan Indonesia yang kaya, ya gak? Inilah beberapa karya yang menurut MBDC pantes difilmin:

1. Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

bumi-manusia Sinopsis: Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah.

Disebut-sebut sebagai novel terbaik yang pernah ditulis oleh orang Indonesia dan telah dirilis oleh Penguin Book (penerbit buku tersohor Amerika). Buku karangan maestro Pram yang jadi bahan baca wajib mahasiswa ini telah banyak dibicarain dan digosipin mau diangkat ke film. Terakhir, Garin Nugroho kabarnya udah mulai hunting lokasi buat film ini sejak tahun 2005, tapi sampai sekarang gak ada kejelasannya.

Garin Nugroho MBDC rasa layak untuk bikin film ini. Namanya setara dengan penulis bukunya, sama sama jagoan. Pemeran Minke? Reza Rahardian cocok kali ye. Terus, Annelies? Meskipun tergolong Indo (Belanda + Jawa), supaya agak beda Prisia Nasution aja dikasih kesempatan yes. Terus, untuk peran bapak Minke: Slamet Rahardjo. Ibu angkatnya, Nyai Ontosoroh? Dewi Irawan boleh juga itu. Jean Marais, tentara Prancis yang kakinya buntung terus jadi pelukis? Christian Sugiono. Gimana gimana?

2. Layar Terkembang - Sutan Takdir Alisyahbana

Layar Terkembang Sinopsis: Tuti adalah putri sulung Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang.

Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf.

Yusuf kemudian jatuh cinta dengan Maria. Sementara, Tuti sibuk dengan berbagai kegiatan. Maria ternyata mengidap penyakit parah.

Kisah cinta Yusuf dan Maria dan juga Tuti jadi semacam simbol untuk pergeseran pemikiran dari yang tradisional (diwakili Maria) ke Modern (diwakili Tuti). Untuk ukuran buku yang dirilis tahun 1936, buku ini cukup progresif.

Film ini kayaknya cocok kalo digarap Ifa Isfansyah (Garuda di Dadaku, 9 Summers 10 Autumns). Pemeran Yusuf? Herjunot Ali boleh lah ya. Maria yang lambang tradisional bisa diperanin Anissa Hertami sedangkan Tuti pantesnya dimainin sama Atiqah Hasiholan.

3. Pulang - Leila S. Chudori

51LZo94BuLL Sinopsis: Paris, Mei 1968.

Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.

Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.

Di antara karya yang lain, Pulang tergolong karya sastra yang paling muda, tapi kehebatannya juga sama kayak buku-buku lain. Leila S. Chudori berhasil bikin pembaca fokus sampai terakhir.

Untuk sebuah buku yang kaya lapisan, MBDC nyaranin Mouly Surya untuk nerjemahin karya ini ke film. Sebelumnya, Mouly bisa buat film personal dengan skala kecil. Jadi, dengan garap film ini bisa jadi tantangan tersendiri olehnya. Ada banyak banget karakter di buku ini, tapi untuk beberapa yang utama kayaknya MBDC masih bisa pilihin. Dimas Suryo mungkin bisa dipertimbangin Abimana Aryasatya (agak kemudaan siih, tapi boleh lah dicoba), untuk Lintang, gimana kalo ngasih Imelda Therinne kesempatan? Hmmm.

4. Pacar Merah Indonesia - Matu Mona

993709_182805015237941_1562113422_n Sinopsis: Pacar Merah Indonesia adalah fiksi sejarah yang dituliskan berdasarkan pelarian Tan Malaka. Sejumlah tokoh-tokoh komunis dan gerakan kiri radikal muncul seperti Ivan Alminsky, Paul Musotte, Semounoff, Darsonoff. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1938 dengan judul Spionage-Dienst: Pacar Merah Indonesia.

Novel ini bercerita tentang Vichitra (didasarin pada Tan Malaka) yang berkeliling dunia dalam petualangannya dikejar polisi rahasia Internasional.

Kalo kamu ngefans sama Tan Malaka pasti pernah deh sekali ngebaca buku ini. Menurut Indonesianis Harry Poetze, cerita yang ada di buku ini adalah penggabungan dari fakta dan fiksi. Berbagai intrik dan keahlian karakter utama emang didasarin oleh keaslian.

Di posisi sutradara, gak banyak yang bisa direkomendasiin lagi, secara nama-nama keren udah MBDC sebutin di atas. Joko Anwar, yang belum pernah bikin kisah petualangan a la Bourne Trilogy kayaknya pas kalo mau nantang dirinya sendiri. Sebelumnya kan Laskar Pelangi udah berhasil tuh. Tan Malaka? MBDC gak bisa mikir nama lain selain Lukman Sardi.

5. Para Priyayi: Sebuah Novel - Umar Kayam

984819 Sinopsis: Novel ini bercerita tentang Soedarsono seorang anak dari keluarga buruh tani yang oleh orang tua dan sanak saudaranya diharapkan dapat menjadi “sang pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten ia bisa sekolah dan kemudian menjadi guru desa.

Dari sinilah ia memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya melawati zaman Belanda dan zaman Jepang tumbuh sebagai guru opsir PETA dan istri asisten wedana. Cita-cita keluarganya berhasil. Benarkah? Lalu apakah sesungguhnya “priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi? Sekadar gaya hidup? Atau kesemuanya.

Satu lagi novel klasik yang sekarang namanya udah kurang banyak kebahas nih. Ditulis oleh maestro Umar Kayam. Dipublikasikan tahun 1992, kisahnya bicara soal Indonesia yang gak banyak dibahas. Priyayi. Riri Riza yang namanya udah gede banget harus mikirin untuk bikin film ini. Peran Soedarsono dicari khusus aja kali ya. Ngasih kesempatan buat orang baru. Tapi, kalo mau yang mukanya Jawa banget dan udah terkenal, ada nama Dwi Sasongko.

6. Pada Sebuah Kapal - NH. Dini

b3-2013-08-24-novel-nh-dini-pada-sebuah-kapal-ctk-vii Sinopsis: Setelah tunangannya (Saputro) tewas dalam kecelakaan pesawat terbang, akhirnya Sri menikah dengan Charles Vincent: pasangan ini kemudian bermukim di Kobe, Jepang. Meskipun sudah memperoleh seorang anak dari diplomat Perancis itu, Sri sesungguhnya tidak merasa bahagia.

Tidak dinyana, dalam perjalanan liburan dari Saigon menuju Merseille, Sri menemukan kembali kemesraan dan kelembutan yang telah sekian lama didambakannya itu pada Michael Dubanton, komandan kapal yang sudah beristri dan mempunyai dua orang anak.-Sri yang tidak mencintai suaminya sejak semula itu pun menjalin kasih dengan Michael yang kecewa dengan isterinya (Nicole)!

Salah satu novelis paling aktif di Indonesia Nh.Dini gak diraguin lagi paling jago bikin drama yang halus dan memikat. Teddy Soeriaatmadja yang pernah dapet banyak penghargaan di internasional MBDC rasa bisa bikin perasaan yang sama pas nonton dengan baca bukunya. Biar agak seru, Sri diperanin sama Wulan Guritno aja kali ya.

MBDC bakal seneng banget sih kalo buku-buku di atas beneran dibikinin filmnya. Btw, kalo ada sutradara yang MBDC sebut di atas butuh tim untuk bikin filmnya bisa loh main-main ke kantor MBDC. Ada yang bisa bikinin scoring musik, ada yang bisa bikin skenario, desain set juga bisa. Ehem Ehem. Gimana menurut kamu? Ada buku favorit yang MBDC gak masukin? Coba share di comments. Yuk mulai hargai karya seni Indonesia.