Kenapa Orang Ketagihan Sosial Media?

Coba liat list dibawah ini. Dari 5 hal dibawah ini, berapa hal yang kamu lakukan?

  1. Kamu rajin ngecek HP kamu, terutama akun-akun sosial media. Bahkan hal yang pertama kali kamu lakukan abis bangun pagi adalah ngecek semua akun kamu.
  2. Kamu rajin meng-update semua akun sosial media kamu. Dari cek-in di setiap tempat yang kamu kunjungi, foto makanan, film yang lagi kamu tonton, sampe pas bangun dan mau tidur pun juga update dulu. Dan kamu pun mengharap orang lain akan merespon postingan kamu tersebut.
  3. Kalo gak ada yang ngerespon postingan tersebut, kamu heran dan bahkan kesel.
  4. Kamu punya temen-temen yang akrab di internet, tapi jarang atau gak pernah ketemu di dunia nyata.
  5. Kamu panik kalo gak bisa mengakses akun-akun sosial media. Kamu selalu nyari tempat yang sinyalnya bagus atau jadi fakir wifi.
Kalo sebagian besar atau semua hal tersebut berlaku sama kamu, kemungkinan besar kamu udah ketagihan sama sosial media. Nah lho. Emangnya bisa ketagihan sama hal-hal seperti itu? Kan bukan seperti alkohol atau narkoba yang mengandung zat-zat kimia yang bisa bikin otak kacau. Nah menurut penelitian di University of Chicago pada tahun 2012 kemaren, ternyata sosial media lebih adiktif daripada rokok dan alkohol. Mereka meneliti tentang keinginan-keinginan dasar manusia, dan kemampuan manusia untuk mengendalikan keinginan tersebut. Dan hasilnya makan, tidur, dan seks adalah keinginan dasar manusia yang paling tinggi, namun keinginan untuk menggunakan komunikasi elektronik, termasuk di antaranya sosial media lebih tinggi ketimbang rokok dan alkohol.

[caption id=“attachment_19227169693” align=“aligncenter” width=“630”]"Gak dulu ah sayang, aku pengen Twitteran" “Gak dulu ah sayang, aku pengen Twitteran”[/caption]

Dan sebaliknya, dalam pengendalian keinginan, para responden mengatakan bahwa mereka paling sulit untuk menahan diri dari komunikasi elektronik tersebut, karena aksesnya sangat mudah dan tidak berdampak sosial apa-apa. Para responden juga menyatakan bahwa tidur adalah keinginan yang sulit, karena selalu bertentangan dengan kewajiban-kewajiban duniawi lainnya. Dan rokok atau alkohol, walaupun banyak yang ingin mengkonsumsinya, kedua barang itu tidak bisa selalu didapatkan dan memiliki implikasi sosial. Lain perkara dengan mengecek sosial media, yang bisa dilakukan kapan saja dengan mudah. Inilah argumen yang berujung pada kesimpulan bahwa sosial media lebih adiktif daripada rokok atau alkohol.

Statistik di Balik Adiksi Sosial Media

Menurut survey yang diadakan oleh organisasi nirlaba Anxiety UK pada tahun 2012 mengenai sosial media, 51% responden mengatakan bahwa sosial media telah mengubah dan memberikan dampak buruk bagi kehidupan mereka. 45 % menyatakan adanya rasa gelisah apabila mereka tidak bisa mengakses akun-akun sosial media mereka, dan 60% menyatakan bahwa mereka merasa perlu untuk mematikan semua gadget agar bisa beristirahat dengan tenang. Data-data tersebut menyatakan bahwa para responden merasa hidupnya dikendalikan oleh teknologi, dan bukan sebaliknya.

[caption id=“attachment_19227169694” align=“aligncenter” width=“630”]"Kata smartphone aku belum boleh berhenti update status..." “Kata smartphone aku belum boleh berhenti update status…”[/caption]

Selanjutnya, lebih dari 65% responden mengakui megalami gangguan pada tidur setelah menggunakan sosial media. Penemuan ini mendukung penemuan dari penelitian yang di University of Bergen, Norwegia yang menyatakan bahwa para responden yang memiliki waktu istirahat yang buruk adalah mereka yang terobsesi dengan sosial media.

Penyebab

Apa sih penyebab adiksi ini? Apakah hanya masalah keinginan dan pengendalian diri? Menurut penelitian di University of Bergen tadi, sebagian besar pengguna sosial media adalah mereka yang memiliki kemampuan sosial dibawah rata-rata, sehingga mereka lebih memilih untuk berkomunikasi lewat internet ketimbang interaksi langsung.

[caption id=“attachment_19227169695” align=“aligncenter” width=“630”]"Guys kita mau ke mana abis ini?" | "Mmm...makan yuk?" “Guys kita mau ke mana abis ini?” | “Mmm…makan yuk?”[/caption]

Peneliti di Harvard berkata lain. Mereka mengadakan eksperimen dengan mengukur aktivitas otak seseorang dan memberikan mereka pilihan untuk membicarakan tentang diri mereka, orang lain, atau menjawab pertanyaan trivia. Dari eksperimen ini mereka menemukan bahwa ketika seseorang sedang membicarakan tentang dirinya sendiri, ada bagian otak yang terasosiasi dengan mendapatkan imbalan yang aktif, lebih aktif ketimbang pada saat membicarakan topik lain. Dan bagian otak ini juga yang aktif ketika seseorang sedang menggunakan narkoba, dan juga bagian yang penting dalam sebuah adiksi.

Pada eksperimen lainnya, para peneliti menemukan bahwa bagian otak tersebut lebih aktif ketika seseorang sedang berbagi pemikirannya ke orang lain, dan langsung redup ketika lawan bicaranya menyatakan bahwa pembicaraan tersebut akan menjadi rahasia. Dan kesimpulan mereka adalah, yang membuat seseorang ketagihan sosial media bukanlah media itu sendiri, namun apa yang kita bagi kepada orang-orang lain di internet; informasi mengenai diri sendiri.

[caption id=“attachment_19227169696” align=“aligncenter” width=“630”]"YESSS MEREKA TAU SEKARANG RUMAH GUE DI MANA!!!" “YESSS MEREKA TAU SEKARANG RUMAH GUE DI MANA!!!”[/caption]

Jadi, bisa dibilang kalau ada orang yang ketagihan sosial media, sebenernya dia bukan ketagihan dengan berbagi, namun ketagihan atas citra dirinya sendiri, dan dengan adanya kamu yang memberi like, retweet, atau lope-lope, kamu hanya membuat orang itu makin ketagihan atas dirinya sendiri. SUMBER http://marketing.wtwhmedia.com/new-harvard-study-shows-why-social-media-is-so-addictive-for-many http://www.huffingtonpost.com/2012/07/10/social-media-anxiety_n_1662224.html http://www.huffingtonpost.com/dr-judson-brewer/social-media-addiction_b_4079697.html http://digitaljournal.com/article/319011