Apakah Demokrasi Indonesia Terancam?

Tenang, jangan pada tegak semua gitu langsung dong duduknya dan siap siap cabut golok. Ini bukan kampanye menjelang pemilu, apalagi menyudutkan salah satu calon presiden, tapi semata-mata pengen mengingatkan aja kalau negara kita ehm tercinta ini adalah negara demokrasi dan dalam hitungan hari kita akan berpesta pora merayakannya. Itu judulnya dibikin gitu biar cetar aja. Jadi, marilah kita kenali lebih dekat wajah demokrasi kita, apakah sudah cukup berkualitas? 

Menurut John Rawls (1997), ada hal yang disebut dengan kecerdasan atau rasionalitas publik (public reason). Nah, hal inilah yang somehow akan sangat menentukan kualitas pilihan warga saat memilih calon pemimpin. Kenapa? Karena dengan semakin tingginya tingkat kematangan, kedalaman dan kebijaksanaan warga dalam menilai kebijakan-kebijakan publik, maka akan semakin tinggi juga kualitas pemimpin yang akan dipilih.

[caption id=“attachment_19227165989” align=“aligncenter” width=“630”]Kalo yang ini daging berkualitas. Kalo yang ini daging berkualitas.[/caption]

Nah, pertanyaan satu juta dollar kita hari ini adalah: Apakah presiden yang terpilih nanti sudah merefleksikan preferensi warga yang penuh kedalaman analisis dan pertimbangan hati-hati, atau justru sebaliknya? Hanya pilihan dangkal, pragmatis dan kebetulan belaka?

Untuk menjawab itu, mari kita pahami dulu apa yang menjadi orientasi dari tindakan warga dalam memilih. Menurut Weber dalam teori klasik Theory of Social and Economic Organization (1964), ada empat jenis rasionalitas atau kecerdasan yang menjadi orientasi warga dalam melakukan tindakan sosial:

1. Rasionalitas Instrumental

Ini adalah tipe kecerdasan yang membuat seseorang bertindak hanya berdasarkan kalkulasi untung-rugi atau apa yang disebut Weber dengan Marginal Utility. Contoh gampangnya adalah politik uang. Siapa yang bisa menjanjikan keuntungan paling besar (dalam hal ini bisa janji menaikan gaji, janji memberikan uang, bahkan sampai memberikan uang beneran untuk mencoblos pilihan tertentu) adalah yang akan dipilih oleh warga dengan tipe kecerdasan ini.

[caption id=“attachment_19227165990” align=“aligncenter” width=“630”]Bill Gates Peluang gue bagus dong?[/caption]

2. Rasionalitas Nilai

Tipe kecerdasan ini mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan kandungan nilai (value) yang ada di dalam tindakan tersebut. Hampir sama dengan tipe diatas tapi lebih luas lagi cakupan pragmatismenya. Tidak sesempit untung-rugi semata. Ada proses kognisi intelektual yang lebih dalam yang terjadi sebelum akhirnya ia memutuskan melakukan tindakan tersebut. Contoh gampangnya, pemilih yang mempelajari visi misi capres dengan sebaik-baiknya, mempelajari kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan nantinya, menimbang dan mengkaitkannya dengan kondisi saat ini, apakah kebijakan dan visi misi tersebut akan menjadikan Indonesia menjadi lebih baik, atau sebaliknya dan cuma retorika aja. Bisa dibilang ini rasionalitas publik yang paling ideal.

[caption id=“attachment_19227165991” align=“aligncenter” width=“630”]Nah, kalo ini nilai bagus beneran. Nah, kalo ini nilai bagus beneran.[/caption]

3. Rasionalitas Tradisional

Dalam kecerdasan tipe ini, pilihan seseorang ditentukan oleh tradisi belaka. Gak pake ribet ada proses intellectual excercises segala. Pokoknya kalau tradisinya udah begitu yaudah begitu. Contoh gampangnya apa ya, hmmm oh misalnya kalau purnawirawan yang memimpin sudah pasti tegas, karena tradisinya dari dulu memang begitu. Or something like that lah.

[caption id=“attachment_19227165994” align=“aligncenter” width=“630”]Anak Band? PASTI NARKOBA!! Anak Band? PASTI NARKOBA!![/caption]

4. Rasionalitas Afektual

Terakhir nih, hampir mirip ama tipe kecerdasan tradisional, sama-sama tidak terjadi olah pikir, bedanya kalau kecerdasan tipe ini hanya berdasarkan perasaan suka atau tidak suka. Udah gitu aja. Contoh gampangnya lagi, misalnya ‘Gua pilih si A soalnya doi mirip mantan pacar gue yang gue sayang banget.’

[caption id=“attachment_19227165995” align=“aligncenter” width=“630”]Ya ampun Ryan Gosling cakep banget sih. Pasti aku pilih jadi presiden! Ya ampun Ryan Gosling cakep banget sih. Pasti aku pilih jadi presiden![/caption]

Tentu saja keempat tipe kecerdasan diatas masih kurang memuaskan untuk kita jadikan acuan dalam menjelaskan pilihan dan tindakan dalam pilpres nanti. Realitas sosial politik jauh lebih kompleks dari sekedar empat poin diatas asik

Meskipun demikian, masih banyak juga masyarakat Indonesia yang menentukan pilihannya berdasarkan hal-hal di luar rasionalitas. Ketidakcerdasan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para timses capres dengan melakukan kampanye hitam untuk melemahkan elektabilitas pasangan lawan sekaligus mendongkrak elektabilitas pasangan yang diusung. Bahkan salah satu capres sampai membuat situs sendiri untuk menjawab dan mengklarifikasi semua tudingan SARA yang ditudingkan kepadanya.

Sampai artikel ini berakhir kita memang belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan satu juta dollar diatas. Karena memang belum ketahuan siapa yang pada akhirnya terpilih nanti. Tapi seperti John Dewey pernah bersabda, bahwa hal terpenting dari sebuah rezim demokrasi bukanlah hasil akhir, melainkan proses terjadinya dialektika pertukaran gagasan yang mengantarkan pada pilihan warga yang teruji. Beuh.

Ehm, bisa dibilang meskipun sudah hampir 70 tahun merdeka, rezim demokrasi kita masih cemen, setelah demokrasi terpimpin dan kemudian orde baru lalu reformasi, baru 10 tahun terakhir inilah kita benar benar merasakan pemilu presiden secara langsung. Karena itu rasionalitas publik kita akan sangat diuji. Mudah-mudahan sih pemilu kali ini bakalan mengantarkan kita menjadi negara demokrasi yang lebih matang dan dewasa dan bukannya justru malah regresi ke masa lalu. Ya gak sih?

*disarikan dari artikel Opini Kompas, ‘Menguji Rasionalitas Publik’, Rabu, 18 Juni 2014, oleh Masdar Hilmy. Sumber: Rawls, John (1997). “The Idea of Public Reason Revisited”. The University of Chicago Law Review 64: 765–807 Weber, Max (1964). “The Theory of Social and Economic Organization”. New York. Free Press. 

RELATED POST

RECENT POST

Jalan2Men 2019 IS BACK!


6 Genre Film yang Jangan Kamu Tonton Pas Ngabuburit


7 Tipe Ibu-Ibu yang Perlu Kamu Waspadai


Bahaya, Ini Dia 5 Bahaya Laten Spoiler yang Perlu Kamu Waspadai!