Happy But Not Happy Ending, Catatan Konser Morrissey Semalam

Judul tulisan di atas adalah komentar yang MBDC dapet dari David Bayu, vokalis band NAIF yang juga adalah satu dari sekian ribu penonton yang hadir memadati GBK Sports Complex Senayan pada Rabu (12/10) malam kemarin.

David NAIF baru sekali nonton konser Morrissey dan ia merasakan kesan yang kurang happy ketika di akhir, meskipun secara keseluruhan konser sih keren. Malah cenderung brutal, sampe ada insiden patah lengan segala,

hiiy ngeri ya??

Gak cuma David, hampir sebagian besar yang nonton di sana juga hampir gak percaya, mengapa konser Morrissey kemarin menyisakan akhir yang 'nanggung' , encore gak dimainin, dan gak pamit.

"Gue dari tadi teriakin There's A Light, Eh die jawab No No No", kata David NAIF

Padahal di setlistnya, Morrissey masih menyisakan satu lagu "What She Said" sebuah nomor klasik dari The Smiths.

Nih intip aja setlistnya,

Tapi MBDC males ah ngebahas kenapa alasan kenapa gak ada encore di konsernya, karena kami yakin pasti udah banyak spekulasi di luar sana.

Tapi overall, konser kemarin berjalan meriah banget. 

Ribuan fans puas dengan suguhan 19 lagu yang dibawain Morrissey. Dari nomor pembuka, "Suedehead" berikut dua nomor selanjutnya, "Alma maters dan "Everyday Is Like Sunday" udah bikin penonton riuh.

Nih liat aja asiknya penonton konser semalem,

Vincent Rompies, musisi yang juga terkenal sebagai presenter adalah salah satu dari sekian penonton yang terpuaskan dengan penampilan Morrissey malam itu.

"Lebih berasa Moz -nya sih daripada tahun 2012, " ujar Vincent

Meski demikian ia juga mengakui bahwa lagu-lagunya lebih banyak di tahun 2012 ketika kali pertama Morrissey datang. Vincent sendiri gak kepikiran kalau lagu penutupnya bakal bikin orang mikir.

Nah, itu dari satu dari beberapa hal unik yang kejadian di konsernya Morrissey.

Selain closing yang aneh serta gak adanya encore, Ini hal-hal unik lainnya yang ada di Konser Morrissey semalem yang gak ada pas tahun 2012

1. Konsernya Outdoor

Di tahun 2012 pas kali pertama Morrissey dateng, venuenya di tennis Indoor Senayan. Secara tempat memang kurang luas ketimbang venue yang sekarang, tapi dulu kerasa banget penuhnya. Baik yang festival maupun yang tribun dan VIP. Kalo sekarang, dengan venue outdoor serta pemisahan kelas yang kerasa banget jelas bedanya antara area VIP yang kosong dan area reguler yang penuh,

Gak ada lagi bisa ngeliat video kaya gini,

2. Tumben Gak Ada Penonton yang Naik ke Panggung 

Euforia dulu sama sekarang tentu beda, memang penontonnya gak seantusias waktu pertama, karena sebagian besar penonton (sepertinya) adalah penonton yang udah dua kali nonton Morrissey (bahkan ada juga lho yang nonton 3 kali waktu Morrissey di Singapura). Jadi untuk urusan naik-naik ke atas panggung udah gak jadi prioritas utama.

"Aslik, gue padahal udah niat banget pengen nyolong naik panggung pas ending, cuma crowd yang di VIP behave banget dan gue juga gak nyangka lagu terakhirnya 'Meat Is Murder' ujar Vincent.

3. Ada Gaya Hormat Ala Ala Perguruan Beladiri  

Baru sekali atau emang dulu MBDC gak nyadar kalo pas konser semalem, Morrissey dan personilnya sebelum memulai memegang instrumen saling memberi hormat kepada satu dan yang lainnya. Semacam ala-ala perguruan beladiri gitu. Unik ya?

4. Ada Video Montase yang Unik

Dari lagu-lagu awal sih normal-normal aja, semua orang having fun dengan lagu-lagu yang dibawain Morrissey. Namun menjelang lagu "World Peace Is None of Your Business" ia mulai melontarkan kritik pedas, seperti ketika ia menanyakan "Apakah anda percaya dengan Donald Trump (Calon presiden Amerika Serikat-red)?" yang dijawab "No!" sama penonton.

Ini dilanjutkan dengan "Ganglord" yang menampilkan video montase kekejaman polisi yang terjadi di beberapa negara. Beberapa penonton (kebanyakan cewek) bahkan tak kuasa menyembunyikan wajahnya di balik ketek cowoknya, enggan melihat panggung karena video-video kekerasan yang ada diputer selama lagu itu. Wah, kesempatan tuh buat cowok untuk ngelindungin ceweknya di balik ketek cowoknya (nah kalo udah kaya gini, pastiin parfum kamu masih wangi ya).

Morrissey juga mengkritik kekejaman matador di Spanyol di lagu "The Bullfighter Dies" dengan gambar banteng yang menusuk sang matador.

Kritikan satirnya terus berlanjut di lagu "Crashing Bores" dimana ia menertawakan pasangan Pangeran William and Kate Middleton dengan tulisan "United King-Dumb".

Dan puncaknya adalah video montase yang sadis di lagu terakhir "Meat is Murder" yang menampilkan kekejaman terhadap hewan.

5. Oleh-oleh Konser: Sepatu Kotor 

dipajang buat kenang-kenangan

Ya, berhubung venuenya outdoor yang pagi sampe siangnya hujan, udah bukan cerita baru deh kalo sampe jeblok kaya gini.

6. Muka-muka (Agak) Kecewa Karena Morrisey Pergi Gak Pamitan 

Tuh penampakan muka-muka yang (agak) kecewa). Padahal udah nunggu setengah jam lebih cuma ngarepin mereka bakal mainin encore, tapi apa daya, ketika drum dan ampli sudah diturunkan dari atas panggung, akhirnya penonton lumayan kecewa.

Meskipun ada juga sih yang puas-puas aja karena mau gimana pun, jarang-jarang lho bisa nonton Morrissey. Plus bisa reunian bareng temen-temen lama, tak terkecuali ketemu artis ibukota.

Nih muka-muka yang puas,

wah seneng bisa foto bareng mas Rian

Nah, terlepas dari adanya encore atau gak, venue yang becek, dan lain sebagainya. Cuma namanya nonton konser pastinya selalu menyenangkan. Apalagi konsernya Morrissey.

Sukses buat Kiosplay atas konser yang bersejarah ini!