Review: Dokumenter Sepertinya Nazril Irham

Kembali lagi sama MBDC Review. Kali ini, kita mau nge-review sebuah serial film dokumenter yang sebernya udah lumayan lama keluarnya, kalo gak salah tahun 2010. Baru-baru ini MBDC abis nonton ulang, dan sadar kalo belom pernah ada yang mengulas video ini. Mungkin karena pada gak berani kali ya, karena video ini waktu itu sangat kontroversial. Tapi sekarang 4 tahun sudah berlalu, MBDC pun memberanikan diri untuk membuat ulasannya.

Serial dokumenter ini terdiri dari 2 film, dan film pertamanya pun dipecah menjadi 2 bagian. Kita gak ngerti kenapa musti dipecah begitu, soalnya durasi yang pertama justru gak sampe setengah dari yang kedua. Pasti sutradaranya memiliki alasan tertentu. Serial dokumenter ini mungkin lebih tepatnya disebut dengan art film, karena keduanya tidak menyampaikan pesan yang tersirat di dalamnya secara gamblang, namun melalui simbolisme-simbolisme yang rumit. Namun MBDC yakin, tema dari serial dokumenter ini adalah tentang cinta dan kehidupan.

Mirip Luna MayaFilm pertama ini diperankan oleh Mirip Luna Maya (MLM) dan Sepertinya Nazril Irham (SNI). Kedua aktor menunjukkan kemampuan akting yang cukup mumpuni, terlebih MLM yang screen time-nya lebih banyak ketimbang SNI. Keduanya mampu menunjukkan kepolosan manusia yang sedang dimabuk cinta dengan ekspresi-ekspresi yang terlihat natural. Film pertama ini dikemas dengan format POV Shaky Cam, seperti Blair Witch Project atau Cloverfield yang menampilan kepada penonton sudut pandang karakter SNI tentang bagaimana indahnya karakter MLM di matanya. Minimnya dialog dalam film ini pun bukan sebuah kelemahan karena alur cerita berjalan dengan jelas lewat akting brilian pendatang baru MLM yang tidak malu-malu. Walaupun memiliki kualitas gambar yang kurang, film ini merupakan debut yang cukup solid untuk SNI, yang juga merangkap sebagai sutradara.

Mirip Cut Tari

Berbekal dengan kesuksesan film pertamanya, SNI pun langsung merilis sekuel dari film tersebut hanya kurang lebih seminggu setelah film debutnya. Di karyanya yang kedua ini, SNI terlihat lebih matang sebagai seorang filmmaker. Kelemahan-kelemahan di film pertama seperti kualitas gambar dan minimnya dialog sudah diperbaiki. Kali ini, SNI terlihat masih bereksprimen dengan teknik sinematografi Found Footage seperti film Chronicle, namun tidak lagi ada efek Shaky Cam, walaupun kali ini gambar disajikan dengan miring. Teknik penceritaan POV pun juga diganti dengan sisi orang ketiga, yang kami nilai lebih efektif narasinya. Tapi sekuel ini juga tidak sempurna. Di sini SNI masih menjadi pemeran utama, namun pemeran karakter kekasih SNI diganti oleh Kayaknya Cut Tari (KCT). Akting KCT yang pasif, tidak sebanding dengan intensitas akting SNI yang buas seperti hewan liar. Dan chemistry antara keduanya pun kami nilai cukup kurang, tidak seperti dengan MLM yang benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih.

Kesimpulan kami, serial dokumenter ini cukup solid dan berani untuk sutradara debutan SNI. Terlepas dari kontroversi dan beberapa kekurangan kecil disana sini, kami bisa menikmati karya yang menegangkan ini. Kami berikan nilai 3.5/5 bintang untuk serial ini, dan kami pun tidak sabar menantikan karya-karya selanjutnya dari SNI.

RATING: 3.5/5