Doni Si Anak Magang Goes to Riau with @greenpeaceID

22 Maret 2014

Hari ini saya Doni Si Anak Magang dapet kesempatan nih ikutan tim @greenpeaceID untuk pergi ke Riau, ngomong-ngomong saya lahir di Riau loh dan sekitar 26 tahun lamanya akhirnya saya kembali ke tanah kelahiran.

Ok lanjut, berkumpul di bandara Soetta kami semua langsung menuju ke pesawat kami dan dengan landing yang terasa seperti Roller Coaster akhirnya kami sampailah di Riau yeaayyyy..eits tapi inget di sini saya bukan untuk main-main tapi untuk mengetahui lebih dalam tentang program @greenpeaceID yang bernama #protectparadise yang dimaksud untuk melindungi hutan-hutan konservasi dari illegal logging ataupun dari pembukaan lahan untuk kelapa sawit secara besar-besaran. Dan setelah dari bandara kami langsung ke greenpeace basecamp, dan setealah mendapatkan beberapa briefing kami siap untuk menuju petualangan yang sebenarnya. Iya, kami semua akan berkunjung ke desa yang bernama dosan, konon katanya disana ada lahan sawit percontohan bagi desa-desa lain.

Part 1: Desa Dosan

Danau Nagasakti didesa dosan

Berangkatlah kami dan tidak lupa membeli supply supaya bisa survive dari kelaparan (agak lebay sih), dan apa yang saya lihat di samping kiri kanan cuma kebun kelapa sawit. Berhektar-hektar, puluhan hektar, ratusan hektar mungkin ribuan hektar dan ada lahan-lahan udah gundul gitu. Selama itu bukan hutan hutan konservasi ternyata itu gak apa-apa kok. Dan setelah sekitar 3 jam lebih dan ditambah sedkit nyasar, akhirnya kami tiba di dosan disambut oleh tokoh masyarakat setempat, kami dijamu dengan sajian makan malam yang luar bisa enak, beneran enak banget, saya sampai ngabisin 4 mangkok ikan asam pedes, beuhh mikirinnya aja sekarang masih pengen makan.

Disambut Pak Dahlan (desa dosan)

Nah yang lebih penting lagi adalah abis kami semua makan, kami berkesempatan berdialog dengan Tokoh Masyarakat setempat yang bernama Pak Dahlan, Ketua Desa dan Ketua Koperasi setempat untuk mengetahui tentang  bagaimana, desa dosan ini bisa menjadi desa contoh pengelolaan kelapa sawit untuk desa-desa lainnya. Disitu mereka menjelaskan sejarah tentang bagaimana akhirnya desa ini bisa menjadi desa contoh dengan segala tantangan yang mereka hadapi dan besok kami semua berkesempatan melihat bagaimana sistem perkebunan kelapa sawit yang mereka kelola. Wihh gak sabar sih..tapi sekarang kudu mandi dulu karena asal tau aja Riau panas banget, Jakarta lewat dah beneran gak boong. Dan sehabis mandi siap tidur buat ngeliat perkebunan sawit esok hari asekkkkk!

Hasil buah Sawit Desa Dosan

Contoh Pohon Sawit yang baik(dosan)

Nah dihari ke-dua ini saya dan teman-teman dari @greenpeaceID menuju ke kebun sawit warga. Nah disana dijelasin proses-proses cara penanaman sawit yang lebih ramah lingkungan karena katanya tanaman kelapa sawit gak ada yang ramah lingkungan. Tapi melalui cara-cara seperti irigasi yang benar, dan pemberian jenis pupuk pada kelapa sawit niscaya akan lebih ramah lingkungan gitu broo. Cuacanya panas banget bener-bener panas, ini emang karena efek hutan yang dijadikan lahan untuk kelapa sawit, tapi sulitnya warga butuh pemasukan dan pemasukan mereka dari kelapa sawit, nah jadi kayak serba salah yak. Tapi setidaknya warga desa dosan lebih baik ketimbang perusahaan yang AMT alias Asal main tebang, ciee keren yang bahasa saya :p. Nah abis itu kita pergi ke namanya danau nagasakti, kenapa namanya naga sakti karena konon ada naga yang menghuni tempat tersebut, yaaaa enggak lah, dikasih nama kayak gitu karena danau ini debit airnya selalu sama, gak pernah habis pas musim kemarau dan gak pernah meluap saat musim hujan, saktiii banget mennnn. Padahal kalo di rumah saya ujan dikit aja udah banjirr. Disana timbul beberapa ide dari penduduk sekitar untuk membuat danau ini menjadi objek wisata, tetapi masih dikaji ulang supaya investor-investor gak asal main tebang-tebang pohon di sekitar daerah danau nagasakti ini.

Part 2: Teluk Meranti

Desan nelayan (teluk meranti)

Gak bisa berlama-lama di desan dosan karena kami semua harus perpindah tempat lagi ke teluk meranti, saya gak tau lagi itu tempatnya kayak apaan, tapi butuh waktu 4-5 jam untuk kesana, fiuh. Dan kami pun berangkat dan ditengah perjalanan kami menemukan ada hutan yang terbakar, wihh miris broo ngeliatnya. Tapi ya kami gak bisa berbuat apa-apa karena itu jauh diseberang sana.

Asap sisa kebakaran(dosan)

Kebakaran hutan

Dan akhirnya kami tiba malam hari di teluk meranti lalu disambut dirumah mantan ketua RW setempat, dan apa yang bisa kita lihat?? Bintangnyaa banyak banget meeenn parahhh bagus banget. Ok, kembali ke topic setelah makan dan mandi, kami lagi-lagi bertemu warga. Disini warga bercerita kalo permasalahan mereka di teluk meranti ini adalah lahan desa mereka yang semakin sempit. Kenapa semakin sempit karena ada perusahaan-perusahaan yang dateng ke kampung mereka terus mulai ngebabatin hutan, dan diperparah dengan ada oknum perangkat desa yang dengan sengaja menjual tanahnya kepada perusahaan, dan kenapa pak RW bisa jadi mantan ketua RW, karena diputusin pacarnya, enggak deng hehehe, karena pak RW menolak kebijakan perangkat desa untuk menjual tanah warga, karena tidak sejalan keinginannya makan beliau dicopot dari jabatannya, gila banget kan men, segitu parahnyaa loh. Dan setelah mendengar cerita mereka kami siap-siap tidur untuk dan besok kami menyusuri sungai Kampar yang katanya masih beauty forest gitu. Penasaran jadinya.

Naik speedboat

Jeng Jeng, hari yang ditunggu pun tiba! Cuci muka gosok gigi, speed boat menunggu kami dan kami akhirnya berangkat menyusuri sungai Kampar, seneng banget karena masih bisa liat banyak binatang-binatang liar kayak bermacam-macam jenis burung dan teman lama saya: monyet. Lalu kami ke desa nelayan dan berbincang dengan nelayan-nelayan sekitar, nah disini kita denger kalo ternyata penghasilan mereka udah jauh menurun ketimbang yang dulu karena ada aktivitas dari penebangan liar yang menyebabkan ekosistem di sungai Kampar udah gak bagus lagi. Ehmm perbandingannya yah, nelayan yang pergi nangkep ikan sebulan dulunya udah bisa gak nangkep ikan lagi sampe 2 bulan.  Nah sekarang, nangkep ikan 1 bulan cuma bisa bertahan buat 1 minggu, gilaaa parah banget men, jauh banget kan turunnya.

Lagi liat-liat monyet(teluk meranti)

Nah abis ngobrol-ngobrol dengan parah nelayan kami sempat melihat adanya praktek illegal logging yang udah ditinggalakan, jadi pergi kesana. Disini nih kalo kalian ngeliat langsung pasti miris banget deh, jadi ternyata hutan yang kita liat dipinggir pantai itu dalemnnya udah gundul, dibabatin sama orang yang berkepentingan. Sedih banget ngeliatnya soalnya ternyata beberapa hewan yang kita temuin tadi itu harus minggir ke deket sungai karena habitat mereka ditengah hutan udah diabisin. Dan setelah itu kami harus kembali ke desan teluk meranti karena kami harus melanjutkan perjalanan kami ke taman suaka margasatwa tesso nilo.

Part 3: Tesso Nilo

Selamat datang di Tesso Nilo

Setalah mandi dan makan kami berpamintan dengan pak RW dan langsung josh ke tesso nilo. Setelah perjalanan sekitar 4 jam kami tiba di tesso nilo, dan ternyata tesso nilo keren sekali karena dia adalah suaka warga satwa yang diurus WWF gitu men, mereka punya 8 ekor gajah yang dilatih dan udah jinak. Dan setelah beres-beres kita langsung ada agenda yang harus dilaksanakan yaitu mandiin gajaahhhhh hiyeee. Di sini saya mandiin gajah dewasa namanya rachman, ehmm ato rahman yaa?? Yah itu deh pokoknya. Tingginya hampir 2,5 meter dan beratnya 3500 kilo alias 3 ton setengah, gilaaaa berat banget nih kalo sampe ketimpa ini gajah. Ada 2 gajah lain yang ikut main air, yaitu tessa dan nela. Pas mandiin gajah kalian baru tau deh kalo gajah seneng banget maen air, karena pas di suruh udahan gitu mereka gak mau, dan masih tetep berendem diair. Tapi dengan sedikit paksaan akhirnya mereka semua harus menyudahi mandi mereka hahahaha.

Imbooo (tesso nilo)

Tigak sekawan (tesso nilo)

Nah setelah itu kami beres-beres dan tibalah waktu makan malam, ikan lele sama ayam bro, sikattt!! Abis makan Kami ngobrol-ngobrol sama mas Iyal dan pak Jung-Jung. Mas Iyal sendiri adalah relawan dan tugasnya adalah TTH alias The Treat Hunter, jadi tugasnya bakalan memeriksa jalur-jalur yang dilewatin gajah, dijalur itu ada yang nebar racun atau enggak, soalnya banyak banget warga sekitar yang sengaja ngasih racun buat matiin gajah. Dan ternyata masalah terbesar di tesso nila itu adalah warga sekitar yang membabat hutan disekitar area marga satwa untuk keperluan mereka. Hal ini terjadi karena ada ketidak jelasan batas antara hutan warga dan hutan suaka marga satwa.

trekking di hutan 1 (tesso nilo)

Wih kalo denger cerita dari mas Iyal dan Pak Jungjung kayak cerita yang gak bakal ada endingnya, karena semua pihak punya kepentingan masing-masing. Pusingg pusinggg hahaha. Dan kami pun harus tidur karena besok pagi kami harus trekking ngelewatin jalan gajah uuu yeaahhh.

trekking di hutan 2 (tesso nilo).jpg

Pagi pun tiba, kami siap-siap buat trekking. Di tengah jalan kami ngeliat ada gajah muda yang umurnya sekitar 7 tahun namanya Imbo. Awalnya Imbo malu-malu buat deketin kita, tapi akhirnya Imbo mendekat gitu dan mau diajak foto bareng, padahla dia gajah hahaha. Terus akhirnya kamu harus pergi tapi Imbo gak suka dan akhirnya saya di seruduk hadehh, mental juga sih di seruduk gajah 7 tahun. Dan dengan sedih kami harus meninggalkan Imbo sendirian. Untuk trekking sendiri jalan yang ditempuh cukup mudah kok, pertama-tama doank, sampe akhirnya kami harus ngelewatin 2 sungai kecil, dan 2 jembatan kecil yang cukup tricky gitu. Sampe akhirnya kami tiba dirawa yang biasa dilewatin gajah, rawa ini cukup berbahaya sih karena ada beberapa serangan pacet dan kalo gak hati bisa ketemu anaconda, yaa gak lahh anaconda cuma di amerika selatan gitu, hahahha. Kalo gak hati hati tuh bisa keceblos sampe sedengkul dan itu yang saya alami hadehhh. Dan akhirnya kami sampai di menara pandang yang tingginya 4 tingkat. Serem juga loh naiknya hahaha.

Welcome to Flying Squad (tesso Nilo)

Setelah itu kami kembali ke camp dan harus segara beres-beres karena harus kembali ke pekanbaru untuk mengejar pesawat untuk kembali ke Jakarta. Setelah beres-beres akhirnya kami pamitan dengan teman-teman kami yang ada di tesso nilo. Saya pribadi cukup sedih meninggalkan tesso nilo, karena buat saya tesso nilo udah kayak tempat yang saya impikan gitu hehehe. Tapi apa daya saya harus kembali ke Jakarta bersama teman-teman greenpeace. Setelah 5 jam perjalan akhirnya kami tiba di bandara pekanbaru. Masuk pesawat dan akhirnya sampai di Jakarta, perasaan senang dan sedih bercampur jadi satu, senang karena akhirnya bisa tiba di Jakarta dengan selamat, sedih karena tau harus segara berpisah dengan teman-teman yang udah 4 hari 3 malem bersama. Mbak Mel, Jeri, Afif gede, Iman, Mbak Lusy, Afif kecil, Ines dan Gorga. Keep in touch sodara-sodara, terima kasih udah berpetualang bersama-sama hehehe.

Yakkk, 4 hari 3 malem ini saya belajar banyak hal banget dari @greenpeaceID yang salah satunya adalah #protectparadise. Dimana kita diajak buat peduli tentng hutan di Indonesia ini. Emang sih masalahnya adalah sejauh mana kita bisa berperan ikut serta dalam menjaga hutan Indonesia. Nah pas saya Tanya-tanya, mungkin hal praktis yang bisa kita lakuin adalah kita bisa aware dengan produk-produk yang kita pake sekarang ini. Ada beberapa produk yang disekitar kita yang ternyata memakai bahan-bahan dari sumber yang gak bertanggung jawab. Dengan membeli produk tersebut, secara gak langsung ternyata kita sendiri udah ngebabat hutan Indonesia.

Hasil ilegal logging 1 (teluk meranti)

Nah untuk teman-teman sekalian yang belom tau apa itu greenpeace dan apa sih protect paradise itu, mending langsung follow @greenpeaceID. Disana ada dijelasin ada tentang campaign-campaign mereka dan juga ada beberapa produk yang kalian bisa tau kalo mereka gak ramah lingkunga gitu. Untuk lebih jelasnya kalian bisa langsung ke webnya greenpeace yaitu http://www.greenpeace.org/seasia/id/

Hasil ilegal logging 2 (teluk meranti)

Hasil ilegal logging 3 (teluk meranti)

Dan Doni harap sih temen-temen bisa ikut aware gitu tentang apa yang terjadi dengan lingkungan kita, jangan cuma asal hidup aja gitu. Ok Ok, dan yang terakhir saya mau berterima kasih buat @GreenpeaceID atas undangan yang berikan supaya bisa ikut di program bearing witness dan kepada MBDC yang lagi-lagi memberikan saya kesempatan yang sempat-sempatnya selalu sempat diberikan kepada saya. Wiihiiuuuuuu!!