Kenapa Orang Indonesia itu Mudah Bergaul

Kali ini MBDC sejenak bakalan mengajak kamu untuk melihat sisi positif yang dimiliki bangsa kita, Bangsa Indonesia. Lebih spesifik ya, MBDC akan mengajak kamu untuk melihat kenapa orang Indonesia itu bisa dengan mudah diterima di dalam kehidupan sosial yang bahkan isinya bukan cuma orang Indonesia. Mari kita mulai!

Ramah

Kamu gak percaya bahwa kebanyakan orang Indonesia adalah orang yang ramah? Nih ya, kebanyakan negara yang sudah maju (Developed Country) itu tingkat individualismenya tinggi. Menurut riset dari Hofstede dalam 5 Dimensi Budaya Hofstede, Negara kita adalah Negara dengan tingkat collectivism yang tinggi. Berarti budaya Indonesia itu gak cuma memperhatikan keluarga inti beserta diri sendiri doang. Ya iyalah, kan namanya juga negara dengan tingkat individualisme yang rendah.

Farah Quinn, seorang chef Indonesia yang handal meremas ayam dengan ramahFarah Quinn, seorang chef Indonesia yang handal meremas ayam dengan ramah

Risk-Taker

Dikarenakan tingkat Uncertainty of Avoidance Indonesia itu rendah, itulah yang menjadikan orang Indonesia tidak terlalu kaku dan terpaut dengan norma dan peraturan yang ada Cenderung lebih risk-taker sih. Terus, kenapa kalau risk-taker jadi mudah bergaul? Emang kamu kira asik gitu nongkrong sama orang yang kalem-kalem aja? Coba bayangin kalau temen nongkrong kamu disuruh loncat dari lantai 3 dan dia mau? Pasti asik banget kan.

Sebuah tindakan yang sangat beraniSebuah tindakan yang sangat berani

High Power Distance

Jadi kalau menurut hofstede, High Power Distance itu menentukan siapa yang lebih berkuasa atas seseorang dalam suatu perkumpulan atau organisasi. Hal ini bisa ditentukan dari jabatan, umur, maupun tingkat material.

Nah, kalau researchnya hofstede sih bilang, Negara kita itu tinggi banget power distance nya, dari situ bisa disimpulkan bahwa sebenernya orang kita itu sopan. Apalagi sama boss. Eh salah, yang lebih tua maksudnya.

Ada MBDC di Indonesia

Ada yang gak jelas dari pernyataan ini?

Udah deh segitu aja dari kita, hah? Kenapa Cuma nulis 3 dari 5 dimensi budaya nya hofstede? Abis kalau 5 ntar TLDR. Jadi segitu aja udah cukup kok. Apa? Kamu gak tau hofstede? Tumben MBDC kayak gini? Kan udah dibilang, nulis artikel di MBDC gak gampang.

Yuk share  pendapat kamu di komen.