Bara Asmara Bersama Neng Dara: Surat Terbuka untuk Pak Daming Sunusi

Kalo biasanya Neng Dara ngebales surat-surat dari pembaca MBDC, sekarang gantian Neng yang nulis surat! Wuih ada apaan ya? Yuk kita baca saja.

Dear Pak Daming Sunusi,

Bapak mungkin tidak pernah mengenal Neng, belum pernah membaca tulisan-tulisan Neng di MBDC, dan belum pernah Neng spank sama sekali. Tidak apa-apa, Pak. Neng pun sebelumnya sama sekali nggak pernah kenal sosok Bapak. Sampai kira-kira beberapa hari lalu Neng terperangah membaca berita ini.

Beginilah kira-kira ekspresi NengBeginilah kira-kira ekspresi Neng

Neng kaget banget sih dengan pernyataan Bapak, sebagai salah satu kandidat hakim agung, yang bilang kalau…

"Yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati. Jadi harus pikir-pikir terhadap hukuman mati,"

Pak, yu krezi, Pak?  Coba kita lihat deh definisi kata perkosaan itu sendiri menurut KBBI:

1. 1 menundukkan dng kekerasan; memaksa dng kekerasan; menggagahi; merogol: ~ negeri orang; laki-laki bejat itu telah ~ gadis di bawah umur; 2 melanggar (menyerang dsb) dng kekerasan: tindakan itu dianggapnya ~ hukum yg berlaku; negara itu dicap sbg negara yg ~ hak asasi manusia;

Pak Daming jangan-jangan penggemar BDSM ya? Bisa-bisanya berpikir kalau ho-ohan yang melibatkan kekerasan itu tuh rasanya nikmat. Ah Neng tau nih. Pasti karena Pak Daming tu hakim, Pak Daming punya banyak koleksi borgol gitu ya Pak? Atau… pecut? Jangan-jangan Pak Daming punya kostum dominatrix di rumah?

Jangan-jangan kalau di rumah Pak Daming kostumnya beginianJangan-jangan kalau di rumah Pak Daming kostumnya beginian

Tapi sebagai seseorang yang berpendidikan, masa sih Pak Daming nggak tau kalau BDSM itu nggak sama dengan pemerkosaan? Bahkan yang namanya role-playing perkosa-perkosaan pun gak sama dengan pemerkosaan beneran. Serius.

Perbedaan antara BDSM atau role playing yang melibatkan “kekerasan” dalam seks dan pemerkosaan sungguhan itu sebenarnya sangatlah sederhana. Sederhana tapi mendasar sekali, yaitu: konsensus alias persetujuan. Dalam variasi permainan seks seperti BDSM atau role playing, kedua belah pihak sama-sama setuju untuk melakukannya, dan keduanya memiliki kendali penuh atas segala hal yang dilakukan di dalam hubungan seksual tersebut. Yang berperan sebagai submisif pun punya kendali untuk menghentikan permainannya kalau dirasa sudah melewati batas yang ia inginkan. Makanya diciptakan lah yang namanya ‘safe word’, begitu. Jadi nggak ada tuh yang namanya ‘melanggar dengan kekerasan’, seperti yang ada di definisi perkosaan, karena keduanya setuju dan keduanya punya kendali.

Neng nggak paham cara berpikir Pak Daming. Gimana caranya coba Pak Daming beranggapan kalau ‘yang diperkosa dengan yang memperkosa itu sama-sama menikmati’? Orang yang diperkosa itu dilanggar hak-haknya dalam batasan yang paling intim, dengan menggunakan kekerasan pula. Dia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Trus, gimana caranya Pak Daming bilang kalau dia juga ikut menikmati? Pak Daming tahu dari mana?

Pak Daming pasti baca dong berita tentang kasus perkosaan yang baru-baru ini terjadi di Delhi? Perempuan 23 tahun itu diperkosa ramai-ramai sampai meninggal, Pak. Kalau Pak Daming bilang dia turut menikmati, mungkin Pak Daming nggak punya hati.

Oh iya deng, Neng lupa kalau Pak Daming sempet nangis-nangis di tivi, minta maaf karena sebenernya Pak Daming nggak bener-bener beranggapan seperti itu, dan itu cuma lelucon doang. Ah ya baiklah, Neng tau banyak yang berpikir bahwa orang-orang yang tersinggung atas lelucon tentang perkosaan itu kayak orang-orang yang terlalu sensitif aja. After all, namanya juga humor, ya gak? Selama ini kita bisa aja ketawa kalau ada yang bikin lelucon rasis, bawa-bawa agama, atau bahkan yang berhubungan dengan kekerasan. Terus kenapa lelucon tentang perkosaan harus dianggap berbeda? Kenapa orang-orang gak bisa ngeliat kalau itu cuma humor dan gak usah dianggap serius? Kenapa orang-orang marah dan tersinggung atas pernyataan Pak Daming?

Neng kasih tau ya, Pak. Menurut Neng pribadi, lelucon tentang perkosaan itu nggak lucu dan nggak akan pernah lucu. Apa yang dialami korban perkosaan saat kendali atas tubuhnya diambil, digunakan seperti binatang, lalu disakiti di bagian tubuh yang paling intim itu mengerikan, dan Neng sih nggak paham lucunya di mana.

Kalau pun ada yang punya rasa humor segitu advanced-nya dan masih bisa tertawa (kayak anggota DPR yang ikut ketawa pas Pak Daming bikin joke itu), ya sudahlah, orang kan beda-beda ya, Neng gak mau nge-judge.

Tapi Neng bisa kasih tau Pak Daming kenapa orang-orang pada marah atas pernyataan yang bapak buat. Perkosaan itu adalah crime of control, Pak. Dilakukan oleh orang yang menggunakan kekerasan untuk mendapatkan kuasa atas tubuh orang lain.

Sebagai seorang calon hakim agung, yang tugasnya mengisyaratkan tanggung jawab dan kuasa yang besar atas nasib orang lain, pernyataan Bapak menjadi sangat menyinggung karena Bapak menganggap crime of control itu sebagai hal yang remeh, bahkan lucu. Seolah Bapak menempatkan diri Bapak di pihak para pemerkosa, seperti Bapak, mereka juga memiliki kekuasaan (atas nasib korbannya), meski mereka mendapatkannya dengan cara kekerasan.

Menurut Neng, itu yang menyebabkan pernyataan Bapak itu nggak bisa hanya sekedar dianggap sebagai “lelucon” saja. Kalo Neng pribadi sih, Neng nggak mau Negara yang Neng tinggali ini punya hakim agung yang memiliki kualitas seperti itu.

Segitu aja sih, Pak, uneg-uneg yang mau Neng sampaikan. Semoga Pak Daming bisa paham kenapa rakyat pada misuh-misuh atas candaan Pak Daming itu. Salam buat istri, anak-anak perempuan, serta cucu perempuan, Bapak. Semoga Bapak bisa belajar banyak dari mereka.

*spank*