Detektif #Kode: #Kode yang Bersambut

Jumpa lagi bersama saya, Detektif #Kode, dalam sebuah rubrik yang pastinya senantiasa dinanti: Detektif #Kode. Seperti biasa, saya akan memecahkan makna yang tersembunyi di balik #kode-#kode yang banyak bertebaran dan berkeliaran di internet. Tujuannya adalah agar ini bisa jadi bahan pembelajaran bagi kita semua. #kode hari ini adalah:


Ah, kode yang bersambut. Betapa indahnya. Saya jadi ingat sebuah cerita di masa lalu. Saat itu sedang masa perang. Saya ikut membela negara tercinta ini perang di Perang Dunia II. Saya memang salah satu prajurit paling handal yang dimiliki oleh bangsa ini, sehingga saya diutus untuk solo-mission, menerobos sarang musuh secara diam-diam dan menghancurkannya dari dalam.

Saya hanya dibekali satu buah pistol Glock 18, satu buah pisau, dan sebuah flare berfungsi sebagai alat kode meminta bantuan udara. 3 alat ini sudah lebih dari cukup bagi saya. Buat saya, dengan tangan kosong sekalipun saya bisa membunuh 200 orang. Apalagi dengan pistol dan pisau.

Tapi rupanya saya terlalu sombong dan jadi ceroboh. Sebuah kesalahan kecil membuat saya terkepung oleh musuh dan terdesak. Saat itu saya tersudut di sebuah gubuk tua. Musuh dari berbagai penjuru mendekati dan sesekali menembaki saya. Hanya satu hal yang bisa saya lakukan: menyalakan flare sebagai kode meminta bantuan.

Saya pun menunggu bantuan datang. Namun 2...5...10...15 menit berlalu, dan tidak ada yang terjadi. Musuh semakin dekat dan saya semakin terdesak. Akhirnya saya tertangkap. Saya digiring keluar gubuk untuk dieksekusi. Saya melihat wajah-wajah para musuh yang tersenyum puas, siap untuk menghabisi saya. Saya dipaksa untuk berlutut. Musuh menodongkan senjata laras panjangnya ke kepala saya.

Tapi saya tidak takut. Saya melihat calon pembunuh saya langsung di mata. Saya menatapnya tajam. Saya menatap kematian secara langsung. Jika maut hendak menjemput saya, dia harus berani menatap saya di mata.

Dan ketika itulah hal yang tidak terduga terjadi.

Bantuan yang ditunggu datang. Sebuah serangan udara menggunakan helikopter yang membunuh semua lawan-lawan saya! Ledakan terjadi di mana-mana! Melihat kesempatan tersebut, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saya merebut senjata musuh dan ikut menembaki mereka semua.

Saat sedang seru-serunya menembak, saya pun bangun. Lebih tepatnya dibangunin, karena harus sekolah. Saya ingat, saya marah sekali pada saat itu. Kapan lagi bisa jadi jagoan. Ya kan?

Tapi intinya, saat #kode bersambut, semua memang terasa lebih indah. Sekian.