Detektif #Kode: Memori Bu Santi

Jumpa lagi bersama Detektif #Kode, ahlinya memecah kode-kode di dunia maya. Di edisi kali ini, sang Detektif menemukan sebuah #kode yang menggugah hatinya. Sebuah #kode yang begitu personal dan membuat bulu kuduknya sedikit merinding.

Ketika saya membaca #kode di atas, seketika lamunan saya membawa saya kembali ke sebuah masa. Sebuah masa yang penuh kebahagiaan tanpa rasa duka cita. Pikiran saya membawa saya kembali ke bangku SMA.

Ketika itu saya masih duduk di bangku SMA kelas 2. Saat itu sudah dilakukan penjurusan dan karena saya adalah siswa yang berprestasi dan cerdas, saya mengambil kelas IPA. Awalnya semua berjalan dengan baik. Saya adalah siswa paling cerdas di angkatan tersebut, semua guru kagum pada saya, dan semua teman-teman pun ingin menjadi teman saya. Menjadi orang cerdas memang memiliki keunggulannya tersendiri.

Namun tidak ada yang tahu, bahwa saat itu sesungguhnya saya memiliki kesulitan dengan pelajaran PPKn. Tidak tahu mengapa, tapi saya tidak pernah tertarik dengan pelajaran tersebut. Padahal pelajaran tersebut sungguh penting dan membentuk moral bangsa. Tapi saya tidak pernah bisa membuat diri saya tertarik dengan pelajaran tersebut, sehingga saya selalu mengalami kesulitan belajar.

Guru PPKn pada saat itu adalah seorang wanita berumur 30tahunan yang bernama Bu Santi. Dia adalah seorang janda, tapi tubuhnya masih semlohai. Ia adalah seorang guru yang keras dan galak. Semua murid takut padanya. Namun saya punya rencana tersendiri. Sebagai murid yang dianggap terpandai di sekolah, saya harus sempurna di segala bidang. Apabila saya tidak bisa konsentrasi dalam belajar PPKn, berarti saya harus mendekati Bu Santi agar nilai saya bagus.

Saya pun memulai rencana jahat saya. Saya mulai sering mengajak Bu Santi ngobrol di luar jam pelajaran. Saya membawakan makanan-makanan enak buatan ibu saya. Saya mulai sering memuji penampilannya. Lama kelamaan, seperti semua wanita yang saya taklukan, Bu Santi pun takluk. Ia mulai membuka dirinya kepada saya dan Ia mulai menceritakan segala ketakutan-ketakutannya. Saya mendengarkannya. Tidak seperti orang lain, saya mendengarkannya dengan sangat baik. Dia percaya dengan saya. Dan saat itu akhirnya saya mengajaknya untuk ke rumah saya.

Hari itu tidak akan pernah saya lupakan. Saat itu hujan. Badan Bu Santi sedikit bergetar ketika Ia duduk di ruang tamu saya. Ia kehujanan. Ia kedinginan. Saya membawakannya coklat panas. Minuman kesukaannya. Ia mengucapkan terima kasih lalu meminumnya. Bu Santi memakai baju warna putih. Hujan membuat bajunya jadi basah dan tembus pandang. Saya bisa melihat apa yang ada di balik baju putih itu.

Kemudian Ibu saya masuk ke ruangan. Bu Santi sedikit terkejut. Ibu saya duduk, memperkenalkan diri, dan langsung menuju poinnya. Dia ingin agar Bu Santi memberikan saya nilai PPKn tertinggi di kelas. Bu Santi sudah masuk perangkap saya. Selama ini dia sudah menerima segala makanan enak dari ibu saya dan sekarang, Ia sedang minum coklat panas yang diimpor langsung dari Italia. Dia tidak bisa menolak lagi. Dia orang Indonesia, tidak akan enak untuk menolaknya.

Sejak hari itu, saya tidak pernah mendapat nilai kurang dari 100 untuk pelajaran PPKn. Saya dan bu Santi tidak pernah ngobrol lagi, tapi kami selalu mengirimkannya makanan enak. Dia sudah berada dalam kantong saya.

Saya terkadang berpikir, apa yang sedang dilakukan Bu Santi sekarang. Mungkin dia sudah menikah lagi. Mungkin dia sekarang sudah menjadi politisi. Ah Bu Santi...