Sengcok vs Senggre

Kecil kemungkinan kamu gak pernah dengar istilah sengcok alias senggol bacok. Yak, dunia kita ini memanglah bukanlah dunia teletubbies di mana interaksi penghuninya lebih sering diwarnai dengan pelukan berjamaah.  Kata senggol bacok sendiri bermula dari istilah yang sering digunakan oleh para preman-preman jalanan atau centeng perkebunan. Artinya cukup harfiah, barangsiapa berani dekat-dekat atau mengganggu gugat, apalagi sampai menyenggol-nyenggol… maka dia akan kena bacok!

Sungguh menegangkan sekali. Pada perkembangannya istilah “sengcok” alias “senggol bacok” ini pun meluas pemakaiannya. Tidak hanya terbatas pada kalangan preman atau centeng saja, jaman sekarang ini semua bisa menggunakan kata sengcok. Mulai dari para perempuan yang sedang PMS sampai pengguna jalan yang emosian. Meskipun tentunya mereka gak benar-benar ngebacok, tapi menurut hemat kami, istilah ini cukup berkontribusi dalam menciptakan iklim kesewotan di Indonesia yang akhir-akhir ini semakin memanas.

Oleh karena itu, sepertinya dibutuhkan satu istilah yang bisa kita gunakan untuk membawa hawa-hawa kehorean. Ketimbang “sengcok”, bagaimana kalau kita mulai memperkenalkan istilah “senggre” alias senggol hore? Semakin kita terbiasa bersikap senggre, semakin banyak orang yang terkena dampak kehorean, dan semoga saja tingkat kesewotan orang-orang di sekitar kita pun semakin berkurang! Ini mudah-mudahan loh ya, kalau pun gak kejadian ya minimal bisa bikin hati kita jadi lebih senang lah! 

Ada ide lain yang biasa kamu jalankan untuk melawan kebiasaan-kebiasaan orang yang gemar sewot? Bagi-bagi di komentar ya! Jangan lupa follow @hidupsehidupnya, dijamin pro hore dan anti sewot.