Closure Itu Perlu Gak Sich?

Ide ini mungkin berseliweran di sekitar kamu ketika baru putus atau menjelang putus atau ketika lagi digantungin sama pasangan kamu. Kamu harus benar-benar mengakhiri hubungan kamu dengan si dia dengan semacam upacara resmi gitu. Well, maksudnya kayak ‘Ok dengan ini saya nyatakan hubungan saya dan pihak kedua, telah berakhir.” Bisa dengan macam-macam cara, misalnya duduk bareng sama dia, tatap matanya terus ludahin. Hahaha. Jangan. Atau bisa dengan cara mengirimkan surat atau bikin lagu kayak Good Riddance-nya Greenday terus kamu nyanyiin di bawah jendela dia. Bwoelah. Dari mulai cara keren sampe norak bisa kamu lakukan. Tapi yang jadi permasalahannya adalah, perlu gak sih yang beginian?

Perlu. Soalnya...

Dengan melakukan sesuatu hal yang kamu tetapkan sebagai titik balik hubungan kamu dan perasaan kamu ke dia, konon akan mempercepat proses moving on. Kamu jadi bisa tegas ke diri kamu kalau inilah waktu yang tepat untuk benar-benar meninggalkan dia. Dengan cara ini juga kamu bisa tegas ke dia dan ngasih tanda kalau kamu ga akan mau tau lagi soal dia dan jangan pernah dia berniat nyariin kamu lagi. Karena kamu sudah akan melanjutkan hidup kamu yang berharga tanpa dia di sekitar kamu. Blah. Saran kita sih kalau emang merasa perlu banget melakukan closure; kirim email atau surat. Tapi janji ya sekali aja. Kalau dia balas ya gak usah dibalas lagi. Namanya juga penutupan. Terus kalau ketemuan jangan sambil check in di hotel atau ke tempat sepi. Kata nenek itu berbahaya.

Gak Perlu. Soalnya...

Potensial drama. Apalagi kalau kamu atau dia adalah seorang drama queen/king yang selalu merasa dunia dan matahari berputar mengelilingi kamu dan dia. Yang ada bukannya jadi lega malahan jadi berlarut-larut. Kamu kasih dia puisi, dia kasih kamu lagu. Karena masih penasaran kamu kasih dia film berisi potongan foto-foto dan video kamu selama pacaran sama dia. Eh dibalas lagi sama dia dengan memberikan scrap book potongan tiket nonton, bon makan kalian plus catatan kejadian apa aja yang terjadi pada saat itu. Terus kamu jadi terharu. Terus kamu telpon dia untuk menegaskan kalau semua ini harus berakhir, eh dia bilang kangen kamu. Terus setelah kamu pikir-pikir kamu juga kangen ama dia. Yeeeee, ga jadi putus dong.

Jadi gimana dong?

Ya gak gimana-gimana. Tergantung kamunya lah, merasa perlu atau ga untuk punya momen penutupan atas semua lembaran kenangan bersama dia. Masalah klasik kalau habis putus adalah pengen buru-buru jadi temen lagi, seperti biasa dan gak ada apa-apa. Hah dikira beresin hati yang berantakan gak butuh waktu apa? Makanya begitu memutuskan untuk selesai, ya selesai. Kasih waktu ke diri kamu untuk beres-beres dan nyapu-nyapu hati. Gak harus kok temenan sama mantan. Lagian katanya bisa memberikan peruntungan jelek sama hubungan kamu berikutnya dengan orang baru kalau mantan kamu masih berkeliaran di sekitar kamu.

Okeh? Udah pada gede kan? Udah tau harus gimana menghadapi masalah-masalah sepele macam gini? Pinter.